News

Tingkat Kesadaran Kesehatan Mental di Indonesia Sangat Rendah, Salah Kemenko PMK?

Tingkat Kesadaran Kesehatan Mental di Indonesia Sangat Rendah, Salah Kemenko PMK?
Ilustari kesehatan mental. (foto: istimewa).

Jakarta - Psikolog dari Tibis Sinergi, Tika Bisono menilai tingkat kesadaran kesehatan mental di Indonesia tergolong sangat rendah. Menurutnya, saat ini masyarakat masih belum bisa menyelesaikan permasalahan terkait kesehatan mental.

“Kondisi mental kita masih belum memiliki daya untuk melakukan perubahan karena sudah puluhan tahun masalah yang kita pikirkan adalah masalah kesehatan mental,” ujar Tika saat dihubungi Kureta, Senin, 11 Oktober 2021.

Dia menyoroti kinerja Kementerian Koodinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) yang seharusnya menangani masalah kesehatan mental di Indonesia, justru belum bekerja secara maksimal.

Baca juga: Efek Mindfulness Redam Stres dan Kecemasan Saat PPKM Darurat

Kementerian PMK itu tadinya harusnya bertanggung jawab untuk perkembangan atau revolusi mental, sayangnya tidak berjalan,” kata dia.

Tika menjelaskan, individu yang memiliki kesehatan mental baik merupakan orang yang memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental itu sendiri, bukan semata-mata yang menganggap dirinya baik-baik saja.

“Jadi orang yang sehat mental itu justru orang yang sadar ada masalah dan langsung cepat diselesaikan, tapi orang yang sadar ketika dia tidak bisa menyelesaikan sendiri, dia cari bantuan, nah orang yang memiliki kesehatan mental seperti itu,” ucapnya.

Baca juga: Dituduh Miliki Narkoba, Pria di Gowa Stres Berat

“Juga orang yang memiliki kesadaran mental itu ketika dia sendiri cari yang mencari bantuan itu ke orang yang bukan yang belaga oke,” ujar Tika lagi.

Tika melanjutkan, masalah kesehatan mental yang banyak diderita orang disebabkan oleh tekanan hidup sehari-hari yang tak pernah dirasakan oleh mereka. Situasi pandemi yang lebih banyak membuat lebih banyak di dalam rumah saja akhirnya membuat masalah mental yang tertahan dirasakan secara nyata.

“Karena manusia itu sendiri kan makhluk sosial akan selalu butuh orang lain, manusia itu akan selalu butuh orang lain, makanya kenapa kalau dia terus sendiri kesepian enggak ada orang yang merhatiin dia cenderung mengalami masalah tidak sehat mental,” ucapnya. [] (penulis: Victor Jo)

Berita Terbaru

Berita Lainnya

News
Fahzian Aldevan - 3 December 2021 | 21:46 WIB
Mantan Kepala Sekolah SMPN 1 Reo dijebloskan ke penjara karena korupsi dana BOS.
News
Morteza Syariati Albanna - 3 December 2021 | 17:29 WIB
Chief Operating Officer (COO) Pahami Cipta Edukasi (Pahamify) Mohammad Ikhsan menyatakan era pendidikan yang dinamis saat pandemi.
News
Morteza Syariati Albanna - 3 December 2021 | 16:04 WIB
Isu reshuffle Kabinet Indonesia Maju kembali memanas seiring mendekati Rabu Pon 8 Desember mendatang ini calon Jaksa Agung pengganti ST Burhanuddin
News
Morteza Syariati Albanna - 3 December 2021 | 15:50 WIB
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nurul Ghufron menjelaskan perihal harta kekayaannya melejit Rp 4 miliar, saat jadi pimpinan KPK.
News
Morteza Syariati Albanna - 3 December 2021 | 15:18 WIB
Presiden Joko Widodo atau Jokowi sentil Kapolda dan Kapolres sowan ke sesepuh ormas yang buat keributan. Berikut berita secepatnya.
Opini
Fahzian Aldevan - 3 December 2021 | 15:07 WIB
Memiliki tubuh yang ideal, sehat, dan kuat adalah dambaan setiap orang.
News
Fahzian Aldevan - 3 December 2021 | 12:47 WIB
Pemda Manggarai gandeng Kejari Cabang Reo sosialisasi penggunaan dana BOS
News
Fetra Tumanggor - 3 December 2021 | 12:35 WIB
Obat Sotrovimab disebut ampuh melawan virus corona, termasuk varian Omicron. Lalu apa itu sotrovimab?
Loading ...