Alur

Seniman Tua di Kampung Jathilan Kulon Progo

Seniman Tua di Kampung Jathilan Kulon Progo
Hindri Bramanti, 67 tahun, sedang menggarap patung karyanya, di rumahnya, Pedukuhan Pedukuhan Pongangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis, 20 Mei 2021. (Foto: Kureta/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Seorang pria tua berambut putih duduk di halaman rumah berdinding batako, di Pedukuhan Pongangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis, 20 Mei 2021. Sebagian ubannya tertutup oleh topi flanel tua yang bertengger di kepalanya.

Hindri Bramanti, pria berusia 67 tahun itu terlihat sedang bersantai dengan beberapa pria lain. Sejumlah cemilan tersaji di atas tikar tempat mereka duduk. Asap rokok mengepul dari bibirnya, sesekali menempel pada dua lukisan wayang yang terpasang di dinding.

Siang itu cuaca cukup cerah. Matahari bersinar terik, namun suasana di tempat itu terasa teduh. Belasan batang pohon di situ mampu meredam terik sinar mentari. Suara mereka yang sedang bercengkrama sesekali diiringi desau angin dan batang-batang bambu yang bergesekan.

Tidak terlalu jauh dari keempat pria itu, di sisi lain halaman rumah, satu patung berbentuk manusia berdiri berdiri di bawah terik sinar matahari. Patung karya Hindri itu belum seutuhnya selesai dibuat. Masih ada bagian-bagian yang perlu dipahat dan ditambahi semen.

Beberapa saat kemudian, Hindri berdiri dan masuk ke dalam rumah. Dia mengambil pahat dan palu, lalu mulai kembali memahat patung berbentuk pemain kuda lumping atau jathilan atau dodog tersebut.

Berkarya Sejak Tahun 1975

Hindri adalah seorang seniman lawas. Sejumlah karya seni, khususnya seni rupa telah dia ciptakan. Mulai dari patung, relief, lukisan, hingga pembuatan taman. Di masa tuanya, Hindri masih berkarya di kediamannya.

Seniman tua Jogja 2Hindri Bramanti, 67 tahun, saat menggarap relief tembok di salah satu rumah tetangganya, di Pedukuhan Pongangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. (Foto: Ist/Dok Pribadi)

"Sempat juga bikin pola batik. Dulu saya melayani di Taman Jogja, Ngasem, yang buat pola saya. Setelah itu mulai juga buat relief, patung, taman, dll," tuturnya menjelaskan.

Hindri juga sempat membuat desain gerabah berbentuk guci kuno Tiongkok. Dia memesan gerabah di kawasan Kasongan, sesuai dengan desain yang dibuatnya. Selanjutnya gerabah pesanan itu diolahnya kembali, dia menggunakan dempul mobil untuk membuat gerabah terlihat kuno dan mengilap.

Dulu pola buatan saya juga masuk ke sana (Kasongan), masih bentuk keren (tungku tanah liat), anglo (tungku tanah liat), terus saya menghilang lagi.

Setelah menghilang beberapa waktu, Hindri kembali berkarya. Kala itu dia bertemu dengan seorang rekannya yang mendapatkan pekerjaan borongan membuat prasasti di salah satu perguruan tinggi negeri agama Islam di Yogyakarta.

Sang teman mengajaknya untuk menggarap proyek itu bersama-sama. Tawaran itu disetujui oleh Hindri.

Seniman tua Jogja 3Seorang seniman, Hindri Bramanti, 67 tahun, meukis gambar kuda di tembok sekitar rumahnya, di Pedukuhan Pongangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. (Foto: Ist/Dok Pribadi)

"Saya suka buat kolam dll, dia menawari untuk membuat prasasti di sana. jadi saya tenaganya, yang merencanakan dan membuat polanya itu saya."

"Itu saya lupa tahunnya, waktu Pak Munawir Sazali menjabat sebagai Menteri Agama," dia menambahkan.

Hindri juga pernah mengerjakan salah satu taman yang ada di kompleks Kepatihan Yogyakarta. Proyek taman itu pun diperolehnya dari seorang teman. "Waktu itu yang menjabat gubernur Kanjeng Gusti Pakualam. Kebetulan itu dulu supirnya teman saya. Dari dia saya dapatnya."

Meski mengerjakan beberapa karya seni yang berbeda, Hindri mengaku tidak ada yang sulit atau gampang. Menurutnya, gampang atau sulit itu tergantung dari niat si seniman. Jika seseorang senang dengan pekerjaan yang digeluti, dia yakin tidak ada kata susah.

Demikian pula dengan karya yang paling berkesan. Dia menyebut semuanya berkesan. Sebab semua karyanya dikerjakan dengan penghayatan.

"Saya hayati dan menjiwai. Karena yang namanya mencintai kanvas dan melukis dengan baik adalah prinsip saya," ucapnya lagi.

Kini, di masa tuanya, selain menerima pesanan patung dan karya seni lain, Hindri juga berencana menjadikan pedukuhan tempatnya tinggal sebagai desa wisata. Hal itu kata dia, sesuai dengan keinginan kepala pedukuhan yang menginginkan agar kampung itu lebih maju daripada sebelumnya.

"Makanya Pak Dukuh sekarang memperbaiki jalanan desa. Ke depannya saya mulai disuruh membuat patung untuk dipasang di pinggir jalan."

Seniman tua Jogja 4Seorang seniman bernama Hindri Bramanti, 67 tahun, berpose di depan lukisan dan taman buatannya. (Foto: Ist/Dok Pribadi).

Patung-patung dodog atau jathilan itu rencananya akan dipasang di jalan utama masuk Pedukuhan Pongangan. Pemilihan patung dodog atau jathilan tersebut bukan tanpa alasan. Kata dia, patung itu disesuaikan dengan hobi masyarakat setempat yang sering main jathilan.

Hindri juga melukis sketsa wajah sejumlah warga secara gratis. Dia melukisnya di atas kertas menggunakan pensil.

"Ke depannya lagi tembok kosong di sini akan dilukis. Supaya meriah. Sketsa ini gambar tetangga, ini semua disketsa gratis. Siapa saja boleh minta disketsa," tuturnya.

Jathilan yang Mulai Langka

Setelah selesai berbincang dan sedikit memahat patung dodog di halaman rumahnya, Hindri mengajak Kureta mengunjungi beberapa lokasi di tempat itu, yang dianggapnya potensial untuk dijadikan tempat wisata, juga lokasi tempat patung tersebut akan dipasang.

Hindri pun mempertemukan Kureta dengan Ponijan, seorang seniman lain yang usianya tak terpaut jauh dengan dirinya. Ponijan adalah seorang seniman kuda lumping atau jathilan, sekaligus seorang perajin kuda untuk kuda lumping.

Ponijan mengaku sudah puluhan tahun bermain kuda lumping. Keahliannya membuat kuda-kudaan berawal dari kebutuhan kelompoknya. Saat ada kuda yang rusak, dia mencoba memperbaiki dan membuatnya.

Seniman tua Jogja 5Ponijan, 62 tahun, seorang seniman kuda lumping, berpose dengan kuda-kudaan kuda lumping buatannya, di rumahnya, Pedukuhan Pongangan, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis, 20 Mei 2021. (Foto: Kureta/Kurniawan Eka Mulyana).

"Awalnya cuma coba-coba. Kalau ada kuda-kudaan yang rusak, saya perbaiki. Lama kelamaan saya bisa membuatnya sendiri," ucap Ponijan dalam bahasa Jawa.

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kuda-kudaan pada kuda lumping hanya berupa bambu, ijuk, dan tali tambang berukuran kecil.

Biasanya dia mengerjakan pembuatan kuda-kudaan pada kuda lumping bersama beberapa rekannya, sehingga tidak bisa dipastikan waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu unit kuda-kudaan. Dia tidak menjual kuda-kudaan hasil karyanya, sebab jika dihitung secara ekonomis, tidak menguntungkan. Tidak sesuai antara waktu pengerjaan, biaya, dan harga jual.

"Biasanya cuma untuk kelompok kami sendiri, namanya Krido Turonggo Logo," ucapnya.

Sayangnya, kelompok kesenian tradisional itu harus vakum selama beberapa tahun terakhir. Penyebabnya, sebagian anggota kelompok itu bekerja dan pindah rumah ke kota lain. Sementara, generasi muda belum banyak yang berminat meneruskan kesenian itu.

Saat beberapa remaja dan pemuda mulai menunjukkan minatnya meneruskan budaya sekaligus kesenian tradisional itu, pandemi Covid-19 menerpa.

"Sebetulnya sudah akan dirintis kembali. Tapi karena Corona ini, mereka tidak berani," kata pria berusia 62 tahun ini.

Padahal, dulu saat kesenian itu masih populer, masa-masa sesudah lebaran seperti saat ini menjadi masa panen mereka. Para pemain jathilan biasanya mendapatkan orderan cukup banyak.

"Kalau hari biasa tidak banyak. Biasanya kalau tidak ada yang mengorder, kami di rumah saja, tidak menawarkan secara berkeliling." []

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Loading ...