News

Pemilih PDIP Kebanyakan Nonmuslim Ketimbang Muslim, SMRC: Agama Miliki Pengaruh

Pemilih PDIP Kebanyakan Nonmuslim Ketimbang Muslim, SMRC: Agama Miliki Pengaruh
Ketua Umum PDI Perjuangann (PDIP) Megawati Soekarnoputri. (foto: Media Indonesia).

Jakarta - Ilmuwan politik Saiful Mujani mengungkapkan, secara umum pemilih yang muslim dan nonmuslim memiliki perbedaan yang signifikan dalam menentukan pilihan terhadap partai politik pada pemilihan legislatif 2024 mendatang.

Faktor agama tidak bisa diabaikan, walaupun bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi warga dalam pilihan politik

Demikian disampaikannya pada program 'Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ bertajuk "Agama Penting bagi Pemilih di Pilpres?” yang disiarkan melalui kanal YouTube SMRC TV.

Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) itu menyampaikan pemilih PKB hampir semuanya beragama Islam. Sebanyak 10 persen pemilih muslim mendukung PKB, yang nonmuslim hanya 1 persen.

Dia mengatakan, komposisi dukungan suara PKB yang hampir semuanya dari kalangan Islam berbanding terbalik dengan PDIP.

Hasil survei SMRC mengungkapkan bahwa PDIP mendapat dukungan sebanyak 22 persen dari pemilih muslim. Sementara, pemilih nonmuslim 48 persen.

Mengutip keterangan tertulisnya, Kamis, 13 Oktober 2022, walaupun porporsi dukungan kalangan non-Islam pada PDIP lebih besar, tapi dukungan dari kalangan Islam juga sangat besar, yakni sebanyak 22 persen.

Sementara itu, Partai Gerindra mendapatkan dukungan 11 persen pemilih muslim, dan 4 persen nonmuslim.

Posisi selanjutnya diisi oleh Partai Golkar, di mana pemilih muslim sebanyak 11 persen dan nonmuslim 8 persen.

Nasdem 3 persen muslim dan 6 persen nonmuslim, PKS 5 persen muslim dan 0 persen non-Muslim.

Selanjutnya, pemilih muslim PPP sebanyak 3 persen, 0 persen nonmuslim. PAN 2 persen muslim, 1 persen nonmuslim.

Sementara Demokrat 7 persen muslim, 4 persen nonmuslim. Partai-partai lain mendapatkan dukungan pemilih muslim 4 persen dan 5 persen pemilih nonmuslim.

Ia menyimpulkan bahwa dari sisi pemilih nonmuslim, PDIP mendapatkan proporsi dukungan yang jauh lebih besar dibanding dengan partai-partai lain.

"PDIP versus the rest. Kalau PDIP tidak ada di sana, kemungkinan suara pemilih non-Islam akan terdistribusi atau menyebar pada semua partai lain," ujar Saiful.

Dia melihat bahwa PDIP memiliki nilai khusus, mungkin karena alasan historis yang membuat partai ini mampu menyerap aspirasi dari pemilih nonmuslim.

"Dalam Pemilu legislatif, dalam hal PDIP versus lainnya, perbedaan agama sangat penting dan tidak bisa diabaikan," tuturnya.

Karena itu, lanjutnya, jika PDIP melakukan kesalahan atau kebijakan yang sensitif terhadap nonmuslim, maka akan lebih mudah bagi para pemilih nonmuslim untuk pergi dari partai ini.

Sebab, sambungnya, pemilih nonmuslim terpusat atau terkonsentrasi pada PDIP.

Menurut dia, yang ideal adalah bahwa pemilih nonmuslim tidak berkumpul di satu partai, yakni PDIP.

Dia mengungkapkan, jika suara kelompok nonmuslim tersebar secara proporsional pada semua partai, itu artinya agama bukan faktor yang berpengaruh dalam pilihan warga.

"Tapi data menunjukkan sebaliknya. Kenyataannya agama memiliki pengaruh. Faktor agama tidak bisa diabaikan, walaupun bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi warga dalam pilihan politik," ucap Saiful.[]

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Loading ...