News

Minta Kapolri Hajar Mafia Obat, DPR Singgung Tanggung Jawab Tokopedia hingga Shopee

Minta Kapolri Hajar Mafia Obat, DPR Singgung Tanggung Jawab Tokopedia hingga Shopee
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Foto: dok. Polri)

Jakarta - Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni meminta Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo menghajar mafia obat yang sengaja memanfaatkan pandemi Covid-19 demi kepentingan pribadi.

Sahroni berpandangan, pandemi Covid-19 yang kian mencekam ini, masyarakat malah dihadapkan dengan melambungnya harga alat-alat kesehatan, vitamin, hingga oksigen.

Sahroni: Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada, dan lainnya agar mereka bertanggungjawab menjaga harga

Dalam hal ini, dia juga menyinggung tanggung jawab perusahaan e-commerce seperti Tokopedia hingga Shoope menjaga harga pasaran obat dan multivitamin tersebut. Sebab, kenaikan itu tidak hanya ditemukan di lapangan, juga di e-commerce.

Politisi Partai NasDem ini menegaskan, kenaikan tidak hanya terjadi pada obat penanganan Covid-19 seperti Ivermectin dan multivitamin, namun juga pada alat-alat seperti pengukur oksigen oxymeter hingga masker.

"Ini sudah parah. Saya amati beberapa barang, misalnya, oxymeter, harganya biasa di bawah Rp100 ribu, kini jadi masuk ke Rp200 ribu, bahkan ke Rp300 ribu," kata Sahroni meneruskan catatan yang diterima Kureta, Senin, 5 Juni 2021.

Selain itu, dia juga merinci harga obat dan multivitamin yang naik di pasaran, mulai dari obat Ivermectin, yang biasanya Rp 5.000-7.000 per tablet, kini sampai hampir Rp 200 ribu lebih per strip, bahkan harga susu steril pun ikut naik hingga semua harga jadi tidak masuk akal.

Maka dari itu, Sahroni meminta kepolisian berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait demi menertibkan para penimbun dan mafia yang membuat harga barang menjadi tidak terkendali. Hal itu juga meliputi koordinasi dengan jasa-jasa e-commerce yang ada.

"Kepolisian wajib berkoordinasi dengan e-commerce juga, seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, Lazada, dan lainnya agar mereka bertanggungjawab menjaga harga. Harus ada unit khusus di e-commerce yang mengawasi seller-seller nakal ini. Kalau sudah pasang harga tak wajar, tutup saja tokonya," ujarnya.

Dalam kondisi prihatin seperti ini, lanjutnya, tidak seharusnya pihak-pihak tertentu mengambil keuntungan dengan melakukan penggelembungan harga.

"Masa warga sudah banyak yang darurat membutuhkan, tapi harganya malah dinaikkan, nurani kita di mana? Untuk para penjual, silakan ambil untung, tapi saat sekarang bukalah perasaan sedikit untuk membantu orang banyak pada masa pandemi ini," ucap Sahroni.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) meminta Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim) Komjen Pol Agus Andrianto tidak ragu menindak pelaku-pelaku yang sengaja menaikkan harga obat untuk Covid-19.

Luhut merasa geram dengan pihak-pihak yang sengaja memanfaatkan momen melonjaknya kasus Covid-19 agar tidak bermain dengan harga obat corona.

Sebab, saat ini banyak yang memanfaatkan lonjakan Covid-19 sengaja menaikkan harga obat. Salah satu contoh adalah kenaikan harga obat Ivermectin hingga puluhan ribu.

"Saya kira Jenderal Agus orang yang tegas. Kalau mau coba-coba silakan, tapi Anda akan menyesal. Saya masih melihat ada upaya menaik-naikkan harga. Jangan coba-coba untuk itu. Ini taruhannya adalah rakyat, taruhannya keselamatan rakyat," kata Luhut dalam konferensi pers virtual, Sabtu, 3 Juli 2021.[]

Berita Terbaru

Berita Lainnya

Loading ...