Alur

Menyusuri Makam Lawas di Kawasan Berbah Sleman

Menyusuri Makam Lawas di Kawasan Berbah Sleman
Kompleks makam Pangeran Purubaya di Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah. (Foto: Kureta/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Deretan batu nisan yang berjejer menyambut kedatangan tujuh pemuda di Yogyakarta, siang itu, Sabtu, 22 Mei 2021. Ketujuh pemuda itu memiliki hobi mengunjungi kompleks makam, khususnya makam kuno atau makam bersejarah.

Hari itu mereka menjadwalkan untuk berkunjung ke sejumlah kompleks makam di sisi timur Kota Yogyakarta, tepatnya di kawasan Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, dan Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka memulai kunjungannya ke situs makam Cendonosari, tempat Patih Danureja VII dimakamkan. Lokasinya terletak di Desa Wonocatur, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Suasana di area kompleks makam itu cukup sunyi. Hanya suara burung bersahutan yang terdengar. Pintu gerbang utama menuju kompleks makam yang biasanya terkunci, hari itu hanya ditutup tanpa digembok. Demikian pula dengan pintu kedua yang terletak tepat di ujung anak tangga.

Makam yang ada di kompleks situs makam Cendonosari terletak di dalam bangunan yang berada lebih tinggi dari jalanan. Ruangan tersebut didominasi dengan warna hijau berlantauli marmer. Beberapa payung jenazah berdiri di sudut kiri bangunan. Sementara, dua makam utama terletak di sisi depan ruangan.

Kedua makam itu adalah makam Patih Danureja VII dan sang istri, GKR Angger yang merupakan adik dari Hamengku Buwono VII. Makam Patih Danureja berada di sebelah kanan. Sementara beberapa nisan berada di belakang kedua makam tersebut.

Seusai berziarah sekaligus mendoakan orang-orang yang dimakamkan di tempat itu, ketujuh anak muda yang tergabung dalam grup Genk Kuburan itu melanjutkan ziarahnya ke kompleks makam di Kompleks Masjid Sulthoni Wotgaleh, Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah.

Masjid Sulthoni Wotgaleh dibangun tahun 1600 Masehi, pada zaman pemerintahan Kerajaan Mataram Islam, dibawah pimpinan Sultan Agung. Masjid ini merupakan salah satu masjid pathok nagoro, atau masjid yang menjadi penanda batas Keraton Yogyakarta.

Di kompleks makam itu disemayamkan jenazah Pangeran Purubaya, anak dari Panembahan Senopati. Pangeran Purubaya juga dikenal sebagai Jaka Umbaran, karena saat masih kecil dia "diumbar" atau dilepaskan oleh orang tuanya. Dia wafat pada tahun 1676 Masehi.

Kompleks makam itu terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama terletak di depan, tepat sebelum memasuki area makam utama. Bagian kedua adalah area makam utama, tempat Pangeran Purubaya dan keluarganya dimakamkan, dan bagian ketiga berada di sekeliling area makam utama.

Ada kisah unik tentang makam itu, yang dipercaya oleh sebagian warga sekitar sejak dulu hingga beberapa tahun terakhir, yakni tidak ada benda apa pun yang bisa terbang di atas makam. Bahkan, menurut cerita salah satu abdi dalem yang bertugas di situ, dulu sering didapati burung maupun kelelawar yang jatuh saat melintas di atas makam.

Tapi, kisah-kisah semacam itu bukan merupakan hal utama yang menarik minat para pemuda tersebut. Mereka justru lebih tertarik untuk mempelajari bentuk nisan, serta sejarah yang berkaitan dengan makam dan tokoh yang dimakamkan.

Menjelajah Kuburan Hingga Mancanegara

Mengunjungi makam, khususnya makam-makam kuno, sudah sejak lama dilakukan oleh para pemuda ini, khususnya oleh Ruri Hargiyono, pencetus Genk Kuburan di Yogyakarta.

Genk Kuburan 2Ruri Hargiyono, 41 tahun, memiliki hobi unik, yakni mengunjungi makam-makam kuno. Ruri juga mendirikan komunitas bernama Indonesia Graveyard. (Foto: Kureta/Kurniawan Eka Mulyana)

Perempuan berusia 41 tahun yang juga pendiri komunitas Indonesia Graveyard ini telah mengunjungi ratusan makam. Bukan hanya makam di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga hingga ke mancanegara, seperti Malaysia dan Jerman.

"Jakarta, Jogja, Kediri, Malaysia. Macam-macamlah. Iya, dulu waktu ke sana (Jerman) juga ke kuburan," kata Ruri.

Ruri menambahkan, dia dan beberapa rekannya bukan sekadar berziarah, mendoakan, dan belajar, tetapi juga membagikan pengetahuan yang diperolehnya melalui media sosial Instagram, dengan nama akun @indonesia_graveyard.

Melalui akun itu dia membagikan foto-foto makam kuno yang telah didatangi, lengkap dengan keterangannya. Tidak jarang dia mengirim ulang atau repost kiriman dari followers atau pengikut akun Instagramnya.

Intinya sharing pengetahuan, sih.

Meski sudah mengunjungi ratusan makam, Ruri mengaku tidak bisa memilih satu atau beberapa makam yang paling berkesan. Menurutnya, semua makam yang didatanginya memiliki kesan tersendiri.

Tak sekadar berziarah dan belajar, Ruri dan gengnya bahkan menyempatkan diri membersihkan makam yang tak terawat. Kala itu dia menyampaikan rencananya melalui akun media sosial. Beberapa followersnya yang memiliki hobi sama pun tertarik dan turut serta.

"Waktu itu di Mrisi, daerah Bantul. Tidak disengaja sih. Cuma pengin membantu makam yang sudah tidak dirawat oleh keturunannya. Kebetulan ngajak followers sama Genk Kuburan di Jogja," ucapnya melanjutkan.

Makam yang dibersihkan waktu itu adalah makam Tionghoa atau bong. Letaknya di kawasan perbukitan. Sebelum dibersihkan, makam tersebut tertutup oleh tumbuhan liar dan nyaris tidak kelihatan.

Mengenai cara belajar sejarah dari mengunjungi makam, kata Ruri, dengan mencari literatur di buku atau internet, kemudian dicocokkan dengan kondisi di lapangan.

"Jadi nyocokin dengan yang ada di buku atau internet. Biasanya banyak hal baru yang ditemuin saat blusukan."

"Saya penikmat sejarah dan kekunoan. Saya penginnya bikin database tapi dari dulu masih sekadar angan-angan," lanjutnya.

Perjalanan Genk Kuburan hari itu tidak selesai sampai di kompleks makam Pangeran Purubaya. Mereka melanjutkan blusukan ke salah satu kompleks makam di Dusun Sumber Kidul, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, yang dikenal sebagai kompleks makam Gemblung.

Kompleks makam ini terletak di atas bukit kecil di tepi jalan, hanya beberapa puluh meter ke arah barat lokasi wisata Lava Bantal.

Di tempat itu terdapat makam berusia ratusan tahun, tepatnya sejak tahun 1773. Selain itu, pada salah satu makam juga terdapat ukiran wulan tumanggal atau bulan sabit, yang biasanya terdapat pada nisan zaman Sultan Agung. Sayangnya, tidak diketahui apakah nisan itu berasal dari zaman Sultan Agung atau nisan baru yang diberi ornamen ukiran wulan tumanggal.

Beberapa sumber mengatakan, lokasi di sekitar kompleks makam tersebut cukup angker. Dulu, sering muncul penampakan makhluk halus di ruas jalan itu, termasuk hantu pocong yang membonceng pengendara sepeda motor yang melintas.

Selain Makam Gemblung, mereka juga mengunjungi kompleks makam di Kali Pentung, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah. Di tempat itu terdapat satu kerkhof atau nisan peninggalan zaman penjajahan Belanda.

Genk Kuburan 3Kerkhof atau nisan yang dibuat pada zaman penjajahan Belanda, di kompleks makam di Kali Pentung, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah. (Foto: Kureta/Kurniawan Eka Mulyana)

Kerkhof itu bertuliskan Hier Rust" yang artinya "Beristirahat di Sini", di bawahnya terdapat tulisan lain berbunyi "Vrauwe" yang menunjukkan bahwa sosok yang dimakamkan di tempat itu adalah perempuan. Di bawahnya lagi terdapat nama JF dr Bly, yang lahir pada 21 Januari 1823 dan meninggal pada 1 September 1905. Sayangnya, tidak ada penjelasan tentang kerkhof yang ada di kompleks makam itu.

Kuburan Adalah Taman

Mengenai cerita-cerita mistis dan menyeramkan yang biasanya dikait-kaitkan dengan kuburan, salah satu anggota Genk Kuburan, Laurentius Lei, yang akrab disapa Lei, berpendapat bahwa itu tergantung pada pikiran masing-masing orang.

"Tergantung ya pada mindsetnya kita. Kalau dari awal kita tertanam bahwa main ke kuburan itu tidak seram," kata Lei.

Dia menambahkan, selama ini banyak orang yang menanamkan pada diri sendiri bahwa kuburan adalah tempat yang menyeramkan. Padahal, kuburan adalah taman. Dia mencontohkan taman makam pahlawan dan taman pemakaman umum.

"Sebenarnya kuburan itu sebuah taman yang indah. Taman memorial untuk mengenang orang-orang yang sudah tiada. Jadi sebetulnya nggak perlu ditakutin," lanjutnya.

Mengenai awal ketertarikannya terhadap kuburan, Lei mengaku dimulai dari ketertarikannya terhadap sejarah. Karena dia tinggal di Yogyakarta, sejarah tentang Kerajaan Mataram menjadi salah satu magnet.

Genk Kuburan 4Laurentius Lei,pemuda yang hobi mengunjungi makam dan bangunan kuno. Lei berpendapat bahwa kuburan adalah taman memorial untuk mengenang orang-orang yang sudah tiada. (Foto: Kureta/Kurniawan Eka Mulyana)

Hobi yang sama dengan anggota Genk Kuburan lain akhirnya mempertemukan mereka. Para pemuda itu pun melakukan hobinya bersama-sama.

"Awalnya concern ke makam tua Tionghoa yang ada di Jogja. Saya sama Mbak Ruri ke sana, terus nemuin makam yang udah kayak hutan, akhirnya kita bersih-bersih," urainya.

Biasanya mereka melakukan hob uniknya di waktu libur, seperti hari Sabtu dan Minggu.

"Daripada bengong nggak jelas kita blusukan ke kuburan. Jadinya ini jadi kesenangan, hobi," tuturnya. []

Berita Terbaru

Berita Lainnya

News
Fernandho Pasaribu - 25 June 2022 | 20:12 WIB
Deklarator Koalisi Bersama Rakyat (KOBAR), Sahat Martin Philip Sinurat menegaskan bahwa sesungguhnya koalisi Jokowi adalah rakyat Indonesia.
News
Fernandho Pasaribu - 25 June 2022 | 18:45 WIB
Penasihat Komunitas Jokowi-Prabowo (Jokpro) 2024, Muhammad Qodari menyinggung usulan elite politik terkait wacana penundaan Pemilu 2024.
News
Fernandho Pasaribu - 25 June 2022 | 18:02 WIB
Penasihat Komunitas Jokowi-Prabowo (Jokpro) 2024, M Qodari menegaskan bahwa gerakan mendukung Presiden Joko Widodo menjabat tiga periode tak mati.
News
Eno Dimedjo - 25 June 2022 | 13:07 WIB
Kontingen cabang olahraga pencak silat Kabupaten Abdya Provinsi Aceh berhasil meraih satu mendali Perak dan dua perunggu.
News
Eno Dimedjo - 25 June 2022 | 12:58 WIB
Kades Mataie, Kecamatan Blangpidie Kabupaten Abdya Provinsi Aceh, Junaidi Idrus mengajak seluruh warganya untuk terus menerapkan pola hidup sehat.
News
Eno Dimedjo - 25 June 2022 | 12:23 WIB
Kebakaran yang terjadi di ruangan Kabag Ops Polresta Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), diduga akibat arus pendek listrik.
News
Eno Dimedjo - 25 June 2022 | 12:08 WIB
Ruangan Kepala Bagian Operasi (Kabag Ops) Kepolisian Resort Kota (Polresta) Mamuju, Sulawesi Barat, terbakar.
News
Eno Dimedjo - 25 June 2022 | 11:56 WIB
Yaqut Cholil Qoumas mengaku bakal memanggil GP Ansor Pengurus Wilayah (PW) DKI Jakarta.
News
Eno Dimedjo - 25 June 2022 | 11:41 WIB
Nayeon Twice resmi meluncurkan mini album debut solonya yang bertajuk Im Nayeon, pada Jumat, 24 Juni 2022.
News
Eno Dimedjo - 25 June 2022 | 10:45 WIB
DKI Jakarta menyediakan 100 unit bus gratis untuk mengantarkan masyarakat menuju lokasi perayaan malam puncak Jakarta Hajatan ke-495.
Loading ...