News

Konversi Kendaraan BBM, Pengamat Otomotif Ungkap Biaya Serba Mahal Kendaraan Listrik

Konversi Kendaraan BBM, Pengamat Otomotif Ungkap Biaya Serba Mahal Kendaraan Listrik
Ilustrasi kendaraan listrik. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden No. 7 tahun 2022 tentang penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle.

Ditambah harga komponen khususnya baterai di pasar retail yang masih sangat mahal, semuanya masih harus impor. Serta biaya instalasi yang cukup mahal

Saat ini aturan mengenai konversi kendaraan bermotor berbahan bakar minyak (BBM) atau konvensional ke kendaraan bermotor listrik baru menyentuh kendaraan roda dua atau sepeda motor.

Untuk selanjutnya, konversi juga direncanakan bakal dilakukan pada kendaraan roda empat atau lebih.

Konversi tersebut diyakini dapat mendorong ekosistem penggunaan kendaraan bermotor listrik di Indonesia.

Merespons itu, pengamat otomotif sekaligus dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan ada beberapa permasalahan di tengah masyarakat Indonesia terkait gerakan konversi dari kendaraan BBM menjadi Electric Vehicle (EV).

Seperti mengutip catatan Kompas.com, Selasa, 27 September 2022, Martinus menyebut salah satu persoalannya adalah belum tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) montir konversi kendaraan listrik yang bersertifikasi dalam jumlah yang signifikan.

"Kemudian, belum tersedianya bengkel bersertifikasi yang mudah diakses di banyak wilayah juga menjadi salah satu hambatan," kata Martinus.

Selain itu, lanjutnya, masyarakat yang ingin melakukan konversi kendaraan bensin menjadi listrik juga dihantui persoalan biaya.

Seperti belum tersedianya parts produksi dalam negeri yang bersertifikasi demi memastikan safety bagi masyarakat yang akan mengonversikan kendaraan ICE-nya.

"Ditambah harga komponen khususnya baterai di pasar retail yang masih sangat mahal, semuanya masih harus impor. Serta biaya instalasi yang cukup mahal," ujarnya.

Yang kemudian harus diperhatikan, kata dia, tidak adanya garansi terhadap keandalan sistem kendaraan listrik khususnya kualitas dan keamanan baterai yang dibeli di after market.

"Beberapa hal inilah yang membuat masyarakat cenderung masih 'wait and see' terhadap berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk berpindah ke EV," ucap Martinus.[]

Berita Terbaru

Berita Lainnya

News
Tigor - 26 November 2022 | 22:26 WIB
Arab Saudi gagal memetik hasil positif dalam laga kedua melawan Polandia.
News
Tigor - 26 November 2022 | 19:21 WIB
Australia membuka jalan untuk bisa lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2022.
News
Tigor - 26 November 2022 | 18:38 WIB
Sering kita saksikan pemain sepak bola di saat jeda melakukan sebuah aktivitas carb rinsing.
News
Tigor - 26 November 2022 | 16:22 WIB
Presiden Jokowi mengklaim bahwa saat ini Indonesia sudah di jalur yang tepat.
News
Fernandho Pasaribu - 26 November 2022 | 15:53 WIB
Pernyataan Jokowi terkait siapa calon pemimpin rambut putih yang memikirkan rakyat identik dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
News
Fernandho Pasaribu - 26 November 2022 | 15:05 WIB
Jansen Sitindaon merespons pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi terkait pemimpin berambut putih.
News
Tigor - 26 November 2022 | 13:08 WIB
Memasuki hari ke-7 penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar.
News
Morteza Syariati Albanna - 26 November 2022 | 10:26 WIB
Wakil Presiden Maruf Amin menyatakan Indonesia menjadi negara yang Islam paling toleran di dunia dan hal ini menurutnya diakui oleh banyak pihak.
News
Morteza Syariati Albanna - 26 November 2022 | 9:35 WIB
Influenza kerap disamakan dengan batuk pilek selesma, padahal keduanya merupakan hal yang berbeda.
News
Morteza Syariati Albanna - 26 November 2022 | 8:56 WIB
Sekretaris Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Imam Pituduh menyatakan khilafah bukan solusi dari persoalan kebangsaan.
Loading ...