Alur

Grace Simatupang, Dokter yang Tak Betah Melihat Orang Susah

Grace Simatupang, Dokter yang Tak Betah Melihat Orang Susah
dr Grace Simatupang. (Foto: tangkapan layar Instagram)

Siantar - Menjelang pukul 12.00 WIB, Rabu, 4 Agustus 2021, Dokter (dr) Grace Simatupang dengan mengendarai mobil pribadinya, menyusuri sejumlah wilayah di Kota Pematangsiantar, Sumatra Utara.

Dokter spesialis anak itu dibantu dua tiga anggota timnya, membawa puluhan bungkus makanan. Mereka kemudian, mendekati sejumlah pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan.

Dia menyebutnya, mereka adalah pejuang ekonomi di masa pandemi Covid-19 yang kini tengah melanda dunia, termasuk Indonesia dan Kota Pematangsiantar.

Kepada warga yang terbilang ekonomi lemah itu dan dipastikan terdampak krisis kesehatan dan pemberlakuan aturan yang membuat mobilisasi warga dibatasi pemerintah, makanan yang terdiri dari nasi dan lauk pauk itu pun diberikan.

"Sebenarnya aksi begini sudah lama dilakukan. Papi saya almarhum dr TH Simatupang SpB (dokter ahli bedah) sering sekali membantu orang ekonomi lemah," kata istri dari Wilson Victor Simanjuntak MM itu, Rabu, 4 Agustus 2021

Cerita Grace, ayahnya sering menggratiskan honornya sebagai dokter bedah. Sering juga membayar seluruh biaya pengobatan pasien. 

"Kalau orang lama Siantar pasti kenal sama papiku," tutur ibu dari  Elizaveta Simanjuntak itu.

Almarhum ayahnya, sering memberikan makanan untuk para abang becak di Jalan Diponegoro, Pematangsiantar. Membeli makanan pinggir jalan untuk seterusnya dibagikan ke orang lain.

"Membeli jualan-jualan orang di pinggir jalan. Semua dibeli papi supaya membantu mereka. Barang yang dibeli papi dikasih ke orang lain juga, Bang," ujarnya.

Teladan dan inspirasi sang ayah, budaya menolong orang lemah dan tak berdaya, sepertinya tertanam pada pribadi Grace.

Grace Simatupangdr Grace Simatupang dan suaminya, Wilson Victor Simanjuntak. (Foto: tangkapan layar Instagram)

Selama menjadi seorang dokter, cukup banyak warga atau pasien yang tak mampu secara ekonomi, datang berobat termasuk ke klinik atau praktiknya di Jalan Sudirman, Pematangsiantar.

Dia mengisahkan kejadian dua tahun lalu, seorang anak dari keluarga tak mampu mengalami sesak napas dibawa ke tempat praktiknya. 

"Anaknya sudah biru. Segera saya bawa ke RSVI dan saya videokan anaknya pas dia sedang diobati," ungkapnya.

Kemudian video itu diunggah di Facebook seraya mengajak siapa saja yang mau membantunya menolong anak tersebut. 

Saat itu terkumpul uang sekitar Rp 30 juta kontan, selain uang yang dipegang ibu si anak sekitar Rp 10 juta. 

"Dari situ saya berpikir, ternyata medsos bisa kita pakai untuk bantu orang lain," katanya. 

Pandemi Datang

Covid-19 akhirnya masuk ke Indonesia sejak Maret 2020. Situasinya saat itu cukup merepotkan sistem kesehatan di Tanah Air. Karena penyebaran virus sangat cepat dan korban mulai berjatuhan.

"Waktu itu kondisi parah banget. Perawat ketakutan semua, tapi APD tak ada. Banyak yang nganggur dan waktu itu PSBB," kata alumni SMA Budi Mulia Pematangsiantar itu.

Dalam situasi begitu, dia juga melihat banyak warga ekonomi lemah terdampak, karena adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Jadi saya inisiatif membagikan nasi bungkus, 50 bungkus per hari yang saya bagi ke semua orang-orang di jalanan," ujarnya. 

Selain dokter, Grace dan suaminya juga membuka usaha kafe di Mami Carlina Cafe dan Playground, Jalan Simbolon No 13, Pematangsiantar. Secara otomatis usaha kuliner ini ikut terdampak dan harus ditutup.

"Saya membuat program di kafe saya, walau cafe saya tutup. Siapa yang pesan makanan ke kafe saya via ojol, maka ojol yang mengambil makanan akan dikasih makanan satu gratis dari kafe kami," katanya, mengisahkan siasat demi berlangsungnya kafe.

Buat APD Sendiri

Dalam situasi pandemi di awal, ketersediaan infrastruktur kesehatan seperti alat pelindung diri (APD), sangat minim. Terutama untuk kebutuhan para tenaga kesehatan (nakes) di sejumlah fasilitas kesehatan di Pematangsiantar. 

Berusaha membalas kasih Tuhan dengan memberikan saya free oksigen sampai hari ini

Grace sampai membuat face shield dan dibagikan ke seluruh rumah sakit yang ada di Pematangsiantar.

"Saya juga membuat face shield sendiri, di mana tahun lalu face shield tak ada, dan saya bagikan ke tujuh rumah sakit di Siantar," akunya kemudian. 

Grace Simatupangdr Grace Simatupang dan timnya berbagi ke warga Pematangsiantar, Rabu, 4 Agustus 2021. (Foto: tangkapan layar Instagram)

Untuk memperkuat daya tahan tubuh para nakes, dengan menggunakan dana sendiri Grace juga membeli kebutuhan mereka. 

"Saya beli banyak makanan, susu, snack, vitamin untuk semua IGD tujuh RS dan khusus perawat yang terkena covid saya kasih cernevit. Saya juga belikan mereka jas hujan waktu dulu awal APD tak ada," ungkapnya.

Tak hanya memikirkan warga dan nakes, Grace juga memberi perhatian ke anak-anak panti asuhan hingga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Ke sana dia mengantarkan makanan, beras dan kebutuhan mereka.

"Terakhir saya ke tempat penampungan ODGJ di mana saya memberikan beras berkilo-kilo dan kebutuhan pokok ODGJ, di mana saya memang donatur tetap di sini," imbuhnya. 

Uang Sendiri

Grace menyebut, semua yang dia lakukan semula menggunakan uangnya sendiri. Namun secara perlahan, dukungan dari donatur mengalir.

Itu terjadi saat aksi sosial dan kemanusiaan yang dia lakoni diunggah di Facebook seraya mengajak siapa saja yang mau bergabung.

"Ternyata banyak banget yang mau gabung," katanya.

Donasi diperoleh dari jejaringnya, mulai dari teman sekolah, teman di Jakarta, hingga orang tua dari pasien-pasiennya selama ini.

Mayoritas penyumbang justru bukan orang atau pernah menginjakkan kakinya di Pematangsiantar.

"Donasi dapatnya dari luar Siantar 90 persen. Mereka yang gak pernah nginjak Siantar malah memberi donasi yang sangat banyak di sini," akunya.

Baca juga: 

Semua donasi yang terkumpul dia salurkan ke warga ekonomi lemah. Misalnya, pedagang asongan pinggir jalan, anak-anak dari keluarga tak mampu, para nakes di IGD dan perawat khusus covid, anak-anak panti asuhan, penderita ODGJ, dan penderita covid dimana saja.

"Saat ini program saya adalah tergabung juga dalam grup Budi Mulia Peduli Covid sebagai nakes. Jadi kami bertugas mengurus semua anggota keluarga alumni BMPS yang terkena covid di seluruh Indonesia," katanya.

Cuma Bertiga

Dalam aksi kemanusiaan dan sosialnya, Grace melibatkan sang suami dan adiknya di Bandung bernama dr Stephanie. 

Grace SimatupangSaat berbagi makanan ke warga di jalanan, Rabu, 4 Agustus 2021. (Foto: tangkapan layar Instagram)

Para karyawan di  kafe dan klinik miliknya pun diikutkan. Seperti saat memulai aksi per 1 Agustus 2021 lalu. Setelah sempat jeda, selepas aksi tahun lalu.

Tim kata Grace, kembali turun membagikan nasi bungkus setiap hari keliling Kota Pematangsiantar. Memberikan makanan, obat, vitamin, snack dan susu, terutama kepada perawat yang terkena covid.

"Membantu mereka yang isoman dimana pun berada sesuai kemampuan saya, memberikan pengobatan gratis pada anak-anak dari keluarga tidak mampu. Sebagai dokter terbuka untuk konsultasi masalah covid semampu bidang saya, panti asuhan dan Yayasan ODGJ," katanya, seraya menyebut dia didukung sebanyak 27 orang dalam tim.

Apa yang melatarinya melakukan itu semua, Grace katakan demi membalas kasih Tuhan yang sejauh ini masih memberikan napas kehidupan, dan tentu saja  atas nama kemanusiaan.

"Berusaha membalas kasih Tuhan dengan memberikan saya free oksigen sampai hari ini. Saya lakukan semua untuk Tuhan. Saya gak ada kepentingan politik, jabatan atau apapun juga," tukasnya.

Sistem Sudah Baik

Menurut Grace, pandemi Covid-19 yang sedang melanda Indonesia saat ini, cukup merepotkan sistem kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

Meski begitu, sistem yang ada cukup mampu merespons, terutama para nakes yang menjadi garda terdepan. 

Tinggal lagi masyarakat yang harus benar-benar memberikan dukungan, semisal mematuhi berbagai aturan yang ditetapkan pemerintah. 

Mematuhi protokol kesehatan, menjadi kunci dukungan masyarakat terhadap upaya mengatasi wabah dunia ini. 

"Sudah bagus sistemnya. Nakes banyak yang survive, bahkan kadang kita dibohongi pasien, gak ngaku covid padahal covid. Yang susah adalah masyarakatnya sendiri.  Sering saya lihat mereka yang positif jalan-jalan," katanya.[]

Berita Terbaru

Berita Lainnya

News
Tigor - 26 November 2022 | 22:26 WIB
Arab Saudi gagal memetik hasil positif dalam laga kedua melawan Polandia.
News
Tigor - 26 November 2022 | 19:21 WIB
Australia membuka jalan untuk bisa lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2022.
News
Tigor - 26 November 2022 | 18:38 WIB
Sering kita saksikan pemain sepak bola di saat jeda melakukan sebuah aktivitas carb rinsing.
News
Tigor - 26 November 2022 | 16:22 WIB
Presiden Jokowi mengklaim bahwa saat ini Indonesia sudah di jalur yang tepat.
News
Fernandho Pasaribu - 26 November 2022 | 15:53 WIB
Pernyataan Jokowi terkait siapa calon pemimpin rambut putih yang memikirkan rakyat identik dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
News
Fernandho Pasaribu - 26 November 2022 | 15:05 WIB
Jansen Sitindaon merespons pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi terkait pemimpin berambut putih.
News
Tigor - 26 November 2022 | 13:08 WIB
Memasuki hari ke-7 penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar.
News
Morteza Syariati Albanna - 26 November 2022 | 10:26 WIB
Wakil Presiden Maruf Amin menyatakan Indonesia menjadi negara yang Islam paling toleran di dunia dan hal ini menurutnya diakui oleh banyak pihak.
News
Morteza Syariati Albanna - 26 November 2022 | 9:35 WIB
Influenza kerap disamakan dengan batuk pilek selesma, padahal keduanya merupakan hal yang berbeda.
News
Morteza Syariati Albanna - 26 November 2022 | 8:56 WIB
Sekretaris Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Imam Pituduh menyatakan khilafah bukan solusi dari persoalan kebangsaan.
Loading ...